PERITUS #10 Mosque Architecture in Contemporary Era : Issues, Approaches, and Innovations

Yogyakarta, 5 Maret 2026 — Program Studi Arsitektur UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan kuliah pakar PERITUS ke-10 dengan mengundang seorang dosen, praktisi, dan penulis, Dr. Ir. Revianto Budi Santosa, M.Arch. Kuliah pakar di Bulan Ramadan ini bertema Mosque Architecture in Contemporary Era : Issues, Approaches, and Innovations, diselenggarakan pada Hari Kamis, 5 Maret 2026 pukul 15.00-18.00 WIB dan dihadiri oleh seluruh dosen dan mahasiswa Prodi Arsitektur.

Kuliah mengenai arsitektur masjid kontemporer menyoroti bahwa masjid saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki peran sosial, budaya, hingga komunitas dalam kehidupan masyarakat. Pembahasan difokuskan pada empat aspek utama yang memengaruhi perkembangan masjid, yaitu place, people, practice, dan patron. Dari aspek place, masjid dipahami sebagai bagian dari ruang kota yang dapat berfungsi sebagai pusat aktivitas, memorial, landmark, maupun destinasi. Berbagai contoh seperti Masjid Agung Natuna, Masjid Syuhada Yogyakarta, hingga Masjid Al Alam Kendari menunjukkan bahwa desain masjid perlu mampu menjawab keseimbangan antara kualitas visual, fungsi ruang, serta aksesibilitas bagi masyarakat. Selain itu, perkembangan bentuk arsitektur masjid yang semakin beragam, termasuk penggunaan kubah maupun non-kubah, menjadi bagian dari dinamika desain masjid masa kini.

Dari aspek people dan practice, masjid berkembang sesuai karakter komunitas dan aktivitas yang berlangsung di dalamnya. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat sosial, pendidikan, hingga kegiatan ekonomi masyarakat. Contoh seperti Masjid Jogokaryan Yogyakarta menunjukkan bagaimana pengelolaan yang inklusif mampu menciptakan dampak sosial yang luas, sementara Masjid Salman ITB dan Masjid UIN Sunan Kalijaga memperlihatkan perbedaan pola pengelolaan masjid kampus. Di sisi lain, aspek patron menegaskan bahwa pembangunan masjid dipengaruhi oleh berbagai pihak pendukung, mulai dari individu, pemerintah, korporasi, hingga masyarakat secara kolektif. Keseluruhan pembahasan menegaskan bahwa masjid kontemporer harus mampu berkembang secara kontekstual, membangun rasa memiliki masyarakat, menghidupkan aktivitas sosial-keagamaan, serta menyelaraskan kebutuhan berbagai pihak pendukung masjid dengan kebutuhan jamaah. (ESJ)

Laporan Kegiatan